Kekuatan Kemajuan Ilmiah: Harapan Baru bagi Pasien Kanker Payudara

Published On: 03/12/2025

Istilah “kanker” sering kali memicu rasa takut, karena dikenal sebagai silent killer. Tingkat kelangsungan hidup pasien dengan kanker stadium akhir sangat rendah, dan bahkan pada stadium awal, risiko kekambuhan kanker tetap tinggi. Di Malaysia, kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling umum terjadi pada wanita.

Data statistik menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 19 wanita di negara ini berpotensi mengalami kanker payudara dalam hidupnya. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak pasien usia muda yang didiagnosis mengidap kanker payudara, sehingga menimbulkan kekhawatiran yang semakin besar.

Pasien kanker payudara di Malaysia sering kali baru mencari pengobatan ketika kondisi sudah berkembang. Lebih dari setengah pasien didiagnosis pada stadium lanjut, bahkan sebagian telah melewatkan periode emas untuk mendapatkan pengobatan yang optimal.

Keterlambatan sejak munculnya gejala hingga dimulainya pengobatan dapat menurunkan peluang kesembuhan kanker payudara. Keterlambatan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kurangnya kesadaran masyarakat tentang kanker payudara, kekhawatiran terhadap efek samping pengobatan kanker, serta kekhawatiran terkait kesuburan pada pasien usia muda. Banyak pasien masih terpengaruh oleh mitos bahwa “kanker tidak dapat disembuhkan”, sehingga mereka percaya bahwa pengobatan justru dapat menimbulkan lebih banyak masalah daripada mengatasi kanker itu sendiri.

Dalam satu dekade terakhir, kemajuan dalam bidang teknologi telah membawa berbagai terobosan dalam pengobatan kanker payudara, yang berkontribusi terhadap penurunan angka kematian dan peningkatan kualitas hidup pasien secara signifikan. Sebelum membahas opsi pengobatan, kita perlu memahami terlebih dahulu bagaimana kanker payudara didiagnosis dan ditentukan stadiumnya.

Diagnosis kanker payudara biasanya dimulai dengan pemeriksaan. Pemeriksaan pencitraan dapat mendeteksi adanya kelainan pada jaringan payudara. Untuk lebih memastikan apakah kelainan tersebut merupakan kanker, dokter akan mengambil sampel jaringan dari payudara pasien untuk dianalisis. Dalam pemeriksaan klinis payudara, tenaga medis akan memeriksa adanya kelainan seperti benjolan pada payudara, keluarnya cairan atau darah dari puting, lesungan atau pembengkakan kulit, serta adanya benjolan di ketiak atau di bawah tulang selangka.

Mamogram

Mamografi adalah pemeriksaan payudara menggunakan sinar-X. Umumnya, pemeriksaan ini digunakan untuk skrining kanker payudara. Jika ditemukan kelainan saat skrining, pasien mungkin akan diminta menjalani mammogram lagi untuk evaluasi yang lebih mendetail. Pemeriksaan ini disebut mammogram diagnostik dan biasanya dilakukan pada kedua payudara.

USG payudara

USG menggunakan gelombang suara untuk menciptakan gambaran struktur internal tubuh. USG payudara dapat membantu tim medis dengan memberikan informasi tambahan mengenai benjolan payudara. Misalnya, ini dapat membantu menentukan apakah benjolan tersebut padat atau kista berisi cairan. Tim medis dapat menentukan langkah evaluasi selanjutnya berdasarkan informasi yang diberikan. Dalam praktik saat ini, mamografi dan USG biasanya digunakan bersama dalam pemeriksaan payudara. Ini karena masing-masing metode memberikan informasi yang berbeda, dan dengan menggabungkannya dapat meningkatkan akurasi deteksi kanker payudara.

MRI Payudara

Perangkat MRI menggunakan medan magnet dan gelombang radio untuk menghasilkan gambaran detail struktur internal tubuh. MRI payudara menghasilkan gambaran payudara yang lebih detail. Terkadang, prosedur ini dilakukan untuk memeriksa payudara yang terdampak secara lebih teliti guna mendeteksi area kanker lainnya, dan juga dapat digunakan untuk memeriksa kanker pada payudara yang satu lagi. Zat kontras biasanya diberikan sebelum pemeriksaan MRI payudara untuk membantu menghasilkan gambaran jaringan yang lebih jelas.

Biopsi

Biopsi adalah prosedur medis berupa pengambilan sampel jaringan yang kemudian diperiksa di laboratorium. Untuk mendapatkan sampel jaringan, tenaga medis akan memasukkan jarum melalui kulit ke dalam jaringan payudara. Teknik pencitraan seperti sinar-X atau USG akan digunakan untuk memandu jarum ke area yang bermasalah. Jaringan yang diambil kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa ada tidaknya sel kanker. Pemeriksaan tambahan pada sampel dapat memberikan informasi mengenai jenis kanker, seberapa cepat pertumbuhannya, serta keberadaan reseptor hormon seperti ER/PR dan HER2. Temuan-temuan ini membantu tim medis menyusun rencana pengobatan yang paling sesuai.

Penentuan Stadium (Staging)

Setelah diagnosis kanker payudara ditegakkan, pemeriksaan lanjutan mungkin diperlukan untuk menentukan sejauh mana penyebaran kanker, yang dikenal dengan istilah staging. Mengetahui stadium kanker akan membantu tim medis membahas rencana pengobatan.

Pemeriksaan dan prosedur yang digunakan untuk menentukan stadium penyakit dapat meliputi:

  • Tes darah (misalnya hitung darah lengkap) untuk menilai fungsi ginjal dan hati
  • CT scan atau MRI
  • Pemindaian tulang
  • PET scan (Positron Emission Tomography)

Tidak semua pasien perlu menjalani semua pemeriksaan ini. Tim medis akan menentukan pemeriksaan mana yang sesuai berdasarkan kondisi pasien.

Kanker payudara dibagi menjadi stadium 1 hingga 4: Angka makin rendah menandakan kanker ada pada stadium yang lebih awal serta peluang kesembuhan yang lebih besar. Kanker payudara stadium 1 menunjukkan bahwa kanker tersebut masih terbatas pada jaringan payudara. Seiring dengan penyebaran kanker ke kelenjar getah bening di sekitarnya dan berkembang ke stadium yang lebih lanjut, angka stadium tersebut juga akan meningkat. Kanker payudara stadium 4 artinya kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Pengobatan kanker payudara

Terdapat lebih dari satu opsi pengobatan untuk menyembuhkan kanker payudara. Pengobatan biasanya melibatkan kombinasi antara tindakan operasi serta terapi lainnya. Tim medis dan pasien akan menyusun rencana pengobatan yang paling tepat bersama-sama. Dalam praktik kedokteran saat ini, pengobatan kanker payudara dapat berupa terapi lokal, terapi sistemik, atau kombinasi keduanya.

Terapi lokal difokuskan pada area payudara, dinding dada, dan kelenjar getah bening, serta mencakup hal-hal berikut:

Operasi

Operasi kanker payudara biasanya melibatkan pengangkatan tumor beserta jaringan sehat di sekitarnya, serta kelenjar getah bening terdekat. Pasien dapat memilih untuk menjalani rekonstruksi payudara setelah operasi. Rekontruksi payudara adalah prosedur untuk mengembalikan bentuk payudara, baik dengan menggunakan jaringan pasien sendiri maupun implan.

Terapi radiasi

Terapi radiasi menggunakan sinar-X berenergi tinggi untuk mengobati kanker. Dalam pengobatan kanker payudara, terapi ini umumnya diberikan dalam bentuk terapi external beam radiation. Terapi ini biasanya diberikan setelah operasi atau kemoterapi, karena terapi ini dapat menghancurkan sel kanker yang tersisa. Terapi radiasi dapat mengurangi risiko kambuhnya kanker. Selain itu, terapi ini juga dapat digunakan pada kanker stadium lanjut untuk meredakan nyeri atau mengontrol perdarahan. Seiring dengan kemajuan di bidang teknologi, teknik radiasi terbaru seperti SRS, SBRT, dan IORT kini telah tersedia. Teknik-teknik ini dapat mengendalikan kanker dengan lebih efektif sekaligus mengurangi efek samping.

Terapi sistemik mengobati kanker di seluruh tubuh dan mencakup hal-hal berikut:

Kemoterapi

Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk menghentikan atau menghancurkan pertumbuhan sel kanker. Obat-obatan ini dapat diberikan secara oral atau melalui infus intravena (IV). Keterbatasan kemoterapi adalah bahwa terapi ini tidak terlalu selektif; meskipun menargetkan sel kanker, terapi ini juga dapat memengaruhi sel-sel normal lainnya, yang menyebabkan kelelahan, muntah, retensi cairan, reaksi alergi, dan kerontokan rambut. Namun, sebagian besar efek samping tersebut kini dapat dikendalikan dengan obat-obatan pendukung.

Terapi hormonal

Terapi hormonal cocok untuk kanker payudara dengan reseptor hormon positif, yang ditandai dengan adanya reseptor ER atau PR pada permukaan sel kanker. Pengobatan ini bekerja dengan cara menurunkan kadar hormon di dalam tubuh atau menghambat interaksi antara hormon dan reseptornya, sehingga memperlambat atau menghentikan pertumbuhan sel kanker. Sebagian besar di antaranya adalah obat-obatan oral, tetapi ada juga yang diberikan melalui suntikan intramuskular (IM) atau subkutan (SC).

Terapi target

Terapi target menggunakan obat-obatan yang secara spesifik menyerang sel-sel kanker yang memiliki penanda tertentu. Agar pendekatan ini berhasil, “target” harus terlebih dahulu diidentifikasi agar obat dapat mengunci target dan bekerja. Oleh karena itu, hanya kanker yang memiliki penanda spesifik yang cocok untuk terapi target. Misalnya, kanker payudara HER2-positif dapat diobati dengan obat-obatan yang menargetkan HER2. Kanker dengan reseptor hormon positif dapat diobati dengan inhibitor CDK4/6 atau inhibitor PIK3CA. Kanker payudara yang terkait dengan gen BRCA juga dapat memperoleh manfaat dari terapi target. Karena terapi target berfokus pada sel-sel kanker yang memiliki penanda spesifik, terapi ini umumnya lebih selektif daripada kemoterapi, sehingga tidak memengaruhi sel-sel normal di sekitarnya dan menimbulkan lebih sedikit efek samping. Namun, terapi ini sering kali lebih mahal. Pengobatan ini dapat diberikan secara oral atau melalui infus intravena (IV).

Imunoterapi

Imunoterapi memperkuat sistem imun pasien untuk membantu melawan sel-sel kanker melalui obat-obatan. Terapi ini umumnya digunakan pada kanker payudara triple-negative. Tidak seperti kemoterapi, pengobatan ini menimbulkan lebih sedikit efek samping.

Antibody-Drug Conjugate

Antibody-drug conjugate menggabungkan terapi target dan kemoterapi untuk secara selektif menekan pertumbuhan sel kanker payudara dan menghancurkannya. Pengobatan ini bisa lebih efektif daripada kemoterapi konvensional dalam menekan pertumbuhan sel kanker.

Uji Klinis

Banyak rumah sakit di Malaysia saat ini sedang berpartisipasi dalam uji klinis internasional. Uji klinis kanker payudara dirancang untuk mengevaluasi pengobatan, intervensi, dan metode diagnostik baru yang bertujuan untuk mencegah, mendeteksi, mengobati, atau mengendalikan penyakit. Ini memberikan lebih banyak opsi pengobatan bagi pasien kanker payudara. Pasien yang tertarik untuk mengikuti uji klinis dapat berkonsultasi dengan dokter onkologi mereka untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Skrining payudara rutin mulai usia 40 tahun

Selain pemeriksaan payudara sendiri, semua wanita dianjurkan untuk menjalani skrining rutin dengan mamografi dan USG payudara. Secara umum, dokter menyarankan agar wanita berusia 40 tahun ke atas menjalani pemeriksaan ini setiap dua tahun sekali.

Jika seseorang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi, skrining sebaiknya dimulai lebih awal dan dilakukan lebih sering. Kelompok berisiko tinggi meliputi mereka yang memiliki riwayat kondisi payudara (bahkan yang bersifat jinak, seperti kista), riwayat keluarga dengan kanker payudara, atau membawa mutasi gen BRCA. Disarankan untuk mulai skrining sekitar 10 tahun lebih awal dari usia saat anggota keluarga terdiagnosis.

Perhatian khusus harus diberikan kepada individu yang memiliki mutasi gen BRCA. Kanker jenis ini cenderung bersifat ganas, terjadi pada usia yang lebih muda, dan sering kali lebih sulit ditangani. Jika salah satu anggota keluarga diketahui membawa mutasi gen BRCA, disarankan agar anggota keluarga lainnya menjalani pemeriksaan genetik dan pemeriksaan lanjutan secara rutin.

Jangan lewatkan waktu terbaik untuk mendapatkan pengobatan yang optimal

Dibandingkan kanker payudara stadium akhir, yang tingkat kesembuhannya hanya 30%, kanker payudara stadium awal memiliki tingkat kesembuhan hingga 90%. Oleh karena itu, hal ini menekankan pentingnya deteksi dini dan pengobatan tepat waktu.

Kanker payudara dapat berkembang dengan cepat, terkadang berkembang dari stadium awal ke stadium akhir dalam waktu singkat, sehingga mengurangi peluang kesembuhan. Kondisi banyak pasien kanker payudara memburuk seiring berjalannya waktu, sehingga mereka menjadi kurang mampu mentoleransi pengobatan dan berpotensi kehilangan peluang untuk pulih. Oleh karena itu, skrining dini, diagnosis dini, dan pengobatan dini tetap menjadi pendekatan yang paling efektif.

Menjalin komunikasi dengan sesama pasien kanker payudara

Pasien dapat memperoleh manfaat dengan menjalin komunikasi dengan sesama pasien kanker payudara. Setiap orang dapat berbagi pendapat atau kisah perjalanan mereka melawan kanker payudara. Hal ini juga memungkinkan para pasien untuk saling memberi semangat dan perhatian, sehingga perjalanan dalam melawan kanker payudara tidak terasa sepi.

Pengobatan kanker payudara berbeda-beda pada setiap orang, dan prosesnya bisa memakan waktu lama. Penting bagi pasien untuk berkomunikasi dengan dokter onkologi mereka dan membangun hubungan saling percaya. Hal ini dapat memperlancar proses pengobatan.

Untuk membaca artikel selengkapnya, silakan klik di sini:

https://mk.chinapress.com.my/?p=585151


Spesialisasi Kami

Muat lebih banyak
Loading...
Thank you for your patience