Frozen Shoulder atau Adhesive Capsulitis

Published On: 30/08/2025

Artikel ini ditulis oleh Brigjen (Purn.) Datuk Dr. Muhammad Fuad B. Daud, Konsultan Bedah Ortopedi (Artroskopi & Bedah Olahraga) di Pantai Hospital Melaka. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai lokasi dan jadwal praktik Dr. Muhammad Fuad B. Daud di kliniknya, klik di sini.

Frozen shoulder, yang juga dikenal sebagai Adhesive Capsulitis, adalah kondisi yang memengaruhi sendi bahu, menyebabkan nyeri, kekakuan, dan keterbatasan rentang gerak. Kondisi ini biasanya berkembang secara perlahan dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti meraih benda, berpakaian, atau bahkan menyisir rambut. Para peneliti belum sepenuhnya memahami penyebab pasti frozen shoulder. Namun, beberapa faktor diketahui berkontribusi terhadap perkembangannya. Untuk membantu memahami seluruh dampak dan pengobatan menyeluruh frozen shoulder, artikel ini memaparkan gambaran umum yang detail mengenai kondisi tersebut, penyebab, gejala, diagnosis, serta opsi pengobatannya.

Apa Itu Frozen Shoulder?

Frozen shoulder adalah kondisi di mana terjadi peradangan, penebalan, dan kekakuan pada kapsul yang mengelilingi sendi bahu. Kapsul ini merupakan jaringan ikat yang memungkinkan pergerakan bebas sekaligus menjaga posisi sendi bahu. Pada frozen shoulder, terjadi peradangan pada kapsul sendi yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut (scar tissue). Jaringan parut inilah yang membatasi pergerakan bahu orang yang terkena. 

Sendi bahu sendiri merupakan sendi bola dan soket (ball-and-socket joint), di mana ujung tulang lengan atas (humerus) masuk ke dalam rongga pada tulang belikat (skapula). Sendi ini dikelilingi kapsul jaringan lunak yang memungkinkan bahu melakukan gerakan berputar dan bergerak ke berbagai arah. Ketika kapsul mengalami peradangan dan penebalan, rentang gerak menjadi terbatas dan sering kali menimbulkan nyeri saat melakukan gerakan tertentu.

Penyebab Frozen Shoulder

Penyebab pasti frozen shoulder belum diketahui secara jelas, namun beberapa faktor diyakini memiliki peran dalam perkembangannya. Kondisi ini lebih sering terjadi pada individu berusia 40–60 tahun, dan lebih banyak dialami oleh wanita dibandingkan pria. Dalam beberapa kasus, frozen shoulder muncul tanpa penyebab yang jelas (idiopatik), sementara pada kasus lain dapat terjadi akibat cedera atau kondisi penyerta tertentu.

Frozen Shoulder Primer (Idiopatik)

Dalam banyak kasus, frozen shoulder terjadi tanpa penyebab yang jelas. Kondisi ini dikenal sebagai adhesive capsulitis primer atau idiopatik. Kondisi ini cenderung berkembang secara bertahap, tanpa adanya cedera atau trauma sebelumnya pada bahu. Mekanisme pasti di balik frozen shoulder jenis ini belum jelas, tetapi diperkirakan peradangan pada kapsul menyebabkan penebalan dan kontraksi jaringan lunak.

Frozen Shoulder Sekunder

Frozen shoulder jenis ini terjadi akibat kondisi medis atau cedera lain. Beberapa penyebab umum antara lain:

  • Cedera Bahu: Orang yang pernah mengalami cedera bahu atau menjalani operasi bahu dapat mengalami frozen shoulder akibat imobilisasi (tidak digerakkan) dalam jangka waktu lama. Misalnya, cedera rotator cuff atau fraktur dapat menyebabkan seseorang membatasi gerakan bahunya, yang berpotensi memicu timbulnya adhesive capsulitis.
  • Diabetes: Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami frozen shoulder. Hubungan antara diabetes dan frozen shoulder belum sepenuhnya dipahami, tetapi diyakini bahwa kondisi tersebut mungkin disebabkan oleh perubahan pada jaringan ikat dan pembuluh darah akibat kontrol gula darah yang buruk.
  • Gangguan Tiroid: Baik hipotiroidisme (kelenjar tiroid yang kurang aktif) maupun hipertiroidisme (kelenjar tiroid yang terlalu aktif) telah dikaitkan dengan peningkatan risiko frozen shoulder. Diperkirakan bahwa ketidakseimbangan tiroid ini dapat memengaruhi jaringan ikat tubuh dan menyebabkan peradangan pada kapsul bahu.
  • Penyakit Kardiovaskular: Orang yang menderita penyakit jantung, terutama mereka yang pernah menjalani operasi jantung, dapat berisiko lebih tinggi terkena frozen shoulder. Sirkulasi darah yang buruk dan imobilisasi dalam waktu lama setelah operasi dapat memicu timbulnya kondisi ini.
  • Penyakit Parkinson: Pasien dengan penyakit Parkinson sering mengalami kekakuan dan rigiditas otot, dan hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya frozen shoulder.

Gejala Berdasarkan Tahapan Frozen Shoulder

Frozen shoulder biasanya berlangsung melalui tiga tahap yang berbeda: freezing, frozen, dan thawing. Setiap tahap ditandai dengan gejala yang berbeda-beda, dan kondisi ini dapat berlangsung mulai dari beberapa bulan hingga beberapa tahun.

Memahami gejala pada setiap tahap dapat membantu seseorang mencari pengobatan yang tepat dan mengelola kondisinya secara efektif.

Freezing Stage (Tahap Nyeri)

Ini adalah tahap awal frozen shoulder dan ditandai dengan rasa nyeri dan ketidaknyamanan yang muncul secara bertahap pada bahu. Biasanya diawali dengan rasa nyeri yang tumpul dan semakin memburuk seiring waktu, terutama saat bergerak. Orang yang mengalami tahap ini umumnya mengalami kesulitan tidur, karena rasa nyerinya sering kali semakin parah pada malam hari. Freezing stage bisa berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa bulan, dengan rasa sakit yang semakin terasa.

Frozen Stage (Tahap Kaku)

Selama frozen stage, rasa nyeri mungkin sedikit mereda, tetapi kekakuan semakin parah. Sendi bahu menjadi jauh lebih kaku dan rentang gerak bahu menjadi sangat terbatas. Aktivitas sederhana seperti mengangkat lengan, menjangkau ke atas kepala, atau bahkan menyisir rambut bisa menjadi sangat sulit. Tahap ini dapat berlangsung selama 4–6 bulan atau lebih.

Thawing Stage (Tahap Pemulihan)

Pada thawing stage, kekakuan mulai berkurang dan rentang gerak bahu mulai membaik. Namun, pemulihannya berlangsung secara bertahap dan mungkin diperlukan waktu beberapa bulan agar kemampuan gerak kembali pulih sepenuhnya. Tahap ini bisa berlangsung antara 6 bulan hingga 2 tahun, tergantung pada tingkat keparahan kondisi dan rencana pengobatan yang digunakan.

Selain rasa nyeri dan kekakuan, penderita frozen shoulder mungkin juga mengalami penurunan kemampuan menggerakkan bahu yang nyata. Berkurangnya rentang gerak dapat menyulitkan seseorang dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seperti menjangkau bagian belakang punggung, mengangkat benda, berolahraga, atau melakukan latihan fisik.

Diagnosis Frozen Shoulder

Frozen shoulder biasanya didiagnosis melalui kombinasi antara riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan pencitraan. Selama pemeriksaan fisik, dokter akan menilai rentang gerak bahu dan menekan area-area tertentu untuk memeriksa adanya rasa sakit dan nyeri tekan. Dokter mungkin juga meminta pasien untuk melakukan gerakan-gerakan tertentu guna mengetahui tingkat kekakuan dan rasa nyeri.

Dalam beberapa kasus, pemeriksaan tambahan mungkin diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi lain yang dapat menyebabkan gejala serupa, seperti artritis (radang sendi) atau cedera rotator cuff. Tes diagnostik umumnya meliputi:

  • Sinar-X: Meskipun sinar-X tidak dapat mendeteksi kerusakan jaringan lunak yang terkait dengan frozen shoulder, pemeriksaan ini dapat membantu menyingkirkan kemungkinan masalah lain, seperti artritis atau fraktur tulang.
  • MRI (Magnetic Resonance Imaging): Pemeriksaan MRI menghasilkan gambaran terperinci mengenai jaringan lunak di sekitar sendi bahu, yang membantu menegakkan diagnosis frozen shoulder dan mengidentifikasi masalah lain yang berdampak pada bahu.

Penyedia layanan kesehatan menggunakan berbagai metode untuk mendiagnosis frozen shoulder secara efektif.

Opsi Pengobatan Frozen Shoulder

Pengobatan frozen shoulder bergantung pada tingkat keparahan gejala dan tahapan kondisi. Dalam kebanyakan kasus, perawatan non-bedah efektif untuk meredakan nyeri dan memulihkan kemampuan gerak. Namun, pada kasus yang parah, intervensi bedah mungkin diperlukan. Di bawah ini adalah opsi pengobatan paling umum untuk frozen shoulder:

  • Terapi Fisik: Terapi fisik merupakan salah satu opsi pengobatan terpenting untuk frozen shoulder. Seorang fisioterapis dapat bekerja sama dengan pasien untuk meningkatkan mobilitas dan kekuatan bahu melalui latihan yang ditargetkan. Latihan untuk frozen shoulder ini dirancang untuk meregangkan kapsul sendi dan meningkatkan rentang gerak, sehingga membantu mengurangi kekakuan dan rasa nyeri.
  • Manajemen Nyeri:Obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti ibuprofen atau parasetamol, dapat membantu meredakan nyeri dan mengurangi peradangan. Pada kasus yang parah, suntikan kortikosteroid dapat digunakan untuk mengurangi peradangan dan meredakan nyeri untuk sementara waktu. Suntikan ini biasanya diberikan langsung ke dalam sendi bahu.
  • Terapi Panas dan Dingin: Mengompres bahu dengan kompres panas atau es dapat membantu meredakan nyeri dan peradangan. Kompres panas umumnya digunakan sebelum terapi fisik untuk melemaskan otot dan mempersiapkannya untuk digerakkan, sedangkan kompres dingin digunakan setelahnya untuk mengurangi pembengkakan.
  • Mobilisasi Sendi: Dalam beberapa kasus, tenaga medis mungkin akan melakukan teknik manual untuk menggerakkan sendi bahu secara perlahan dan mengurai adhesi (perlekatan jaringan). Hal ini membantu memulihkan mobilitas dan meredakan kekakuan.
  • Tindakan Operasi: Jika pengobatan konservatif tidak berhasil, tindakan operasi mungkin dapat dipertimbangkan. Dua opsi tindakan operasi yang paling umum untuk frozen shoulder adalah:
  • Shoulder Arthroscopy: Prosedur invasif minimal ini dilakukan dengan membuat sayatan kecil dan menggunakan kamera untuk memandu dokter bedah dalam mengangkat jaringan parut dan adhesi dari sendi bahu.
  • Manipulation Under Anesthesia (MUA): Dalam prosedur ini, pasien diberikan anestesi umum, dan dokter menggerakkan sendi bahu secara paksa untuk memecah jaringan parut dan meningkatkan pergerakan.

Pencegahan Frozen Shoulder

Meskipun tidak selalu mungkin untuk mencegah frozen shoulder, ada beberapa langkah untuk mengurangi risiko mengalami kondisi tersebut:

  • Tetap Aktif: Melakukan latihan bahu secara rutin dan aktivitas fisik dapat membantu menjaga kelenturan sendi serta mencegah kekakuan.
  • Segera Tangani Cedera: Jika mengalami cedera bahu, segera cari pertolongan medis dan hindari imobilitas dalam waktu lama.
  • Mengontrol Kondisi Penyerta: Jika seseorang menderita diabetes, gangguan tiroid, atau penyakit jantung, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengontrol kondisi-kondisi tersebut, karena hal itu dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami frozen shoulder.

Kesimpulan

Frozen shoulder adalah kondisi yang menyakitkan dan dapat sangat mengganggu, yang berdampak besar terhadap kualitas hidup seseorang. Meskipun penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui; peradangan, cedera, dan kondisi medis tertentu diyakini memiliki peran dalam perkembangannya. Diagnosis dan penanganan dini sangat penting untuk mengurangi nyeri, meningkatkan mobilitas, dan mempercepat pemulihan. Dengan rencana pengobatan yang komprehensif, meliputi fisioterapi, manajemen nyeri, dan dalam beberapa kasus, tindakan operasi, sebagian besar penderita frozen shoulder dapat pulih sepenuhnya. Jika Anda mengalami nyeri atau kekakuan pada bahu, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis ortopedi untuk menentukan langkah terbaik apa yang harus diambil.


Spesialisasi Kami

Muat lebih banyak
Loading...
Thank you for your patience